Mengenal Jakarta(2)

Peralihan kekuasaan dari Bangsa Portugis ke Kerajaan Demak di Jawa

Perjanjian yang dilakukan oleh Kerajaan Sunda Padjajaran dengan Bangsa Portugis, dianggap oleh Kerajaan Islam Demak sebagai sebuah propaganda. Dan dinilai sebagai sebuah ancaman terhadap eksistensi mereka. Sehingga Kerajaan Demak di Jawa mentitahkan Fatahillah[5] untuk mengusir Bangsa Portugis dari Sunda Kelapa sekaligus menguasainya.

Pada tanggal 22 Juni 1527[6], pasukan gabungan Kerajaan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) berhasil merebut dan mengusai Sunda Kelapa. Kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Nama itu di ambil dari bahasa Sansekerta yang artinya kota kemenangan, atau secara etimologisnya mengandung arti kemenangan yang diraih oleh sebuah usaha.[7]

Datangnya masa kolonialisme modern dibawah kekuasaan Belanda

Usia kota kemenangan, Jayakarta tidaklah berlangsung lama. Hal itu ditengarai akibat adanya ekspansi dari kolonialis modern asing di kawasan nusantara. Bermula dengan berdirinya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) milik Belanda yang berlatar belakang ekonomi dan bertujuan untuk berniaga. Namun lambat laun, VOC justru menjadi kekuatan politik besar sehingga membutuhkan sokongan militer yang kuat pula.

Maka pada tanggal 30 Mei 1619,[8] akhirnya Jayakarta berhasil direbut oleh pasukan Belanda dari kekuasaan Kerajaan Demak yang sedang mengalami fragmentasi didalamnya. Pasukan Belanda tersebut di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen sebagai panglima. Di bawah pimpinannya, pasukan Belanda tidak hanya menguasai melainkan pula memusnahkan Kota Jayakarta.

Di atas puing-puing Kota Jayakarta lama, Jan Pieterszoon Coen mendirikan sebuah kota baru yang dinamai Nieuw Hoorn (Hoorn Baru), sesuai dengan kota asalnya Hoorn di Belanda.[9] Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya pada tanggal 4 Maret 1621 oleh kolonialis Belanda untuk pertama kali dibentuklah pemerintah kota bernama Stad Batavia.[10]

Batavia di bawah pemerintah kota kolonialis Belanda

Batavia, dibawah pemerintahan Belanda menjadi sebuah kota yang tertata baik dan terencana. Pembangunan pun terjadi dimana-mana. Yang paling terasa adalah dengan adanya pembangunan kanal di pelabuhan Sunda Kelapa. Dari mulanya kanal tersebut hanya sepanjang 810 meter, namun berkat pembangunan diperbesar menjadi 1.825 meter sekitar dua kali lipatnya.[11]

Tidak hanya itu, pada abad ke-19 di Batavia dibangunlah pelabuhan Tanjung Priok yang berjarak sekitar 15 km ke arah timur dari Sunda Kelapa. Tujuan dibangunnya pelabuhan lain selain Sunda Kelapa adalah untuk menyaingi Singapura yang kala itu menjadi rival Batavia. Mengingat kala itu tengah terjadi modernisasi di seluruh belahan dunia. Dikarenakan telah dibukannya Terusan Suez pada tahun 1869 sebagai jalur pelayaran utama.[12] Dan Batavia memiliki letak yang strategis sebagai bagian dari jalur sutra di kawasan Asia Tenggara.

Selain dari pembangunan pelabuhan, pada tahun 1869 dibngunlah moda transportasi sederhana. Yaitu trem berkuda yang ditarik empat ekor kuda, yang diberi besi di bagian mulutnya.[13] Pada tahun 1873 di Batavia pun di bangun jalur kereta api pertama.[14] Jalur kereta api tersebut menghubungkan kota Batavia dengan Buitenzorg (Bogor) yang berada di selatannya.

(bersambung)


[5] Sebutan “Fatahillah” masih menuai beragam teori, ada yang mengatakan bahwa Fatahillah adalah nama seorang panglima perang Kerajaan Demak. Dinamai Fatahillah karena dinilai berjasa dalam menguasai Sunda Kelapa, dan merupakan sebuah “gelar” baginya. “Fatahillah” berasal dari bahasa Arab. Menurut bahasa “fatah” berarti “pembuka” atau “penakluk”. Sedangkan menurut epistemologinya mengandung arti “kemenangan atas karunia Allah”.

Sedangkan ada teori lain yang menyebutkan bahwa, Fatahillah adalah gelar atau nama lain dari Sunan Gunung Jati yang berkedudukan di Gunung Jati Cirebon. Teori ini didukung dengan adanya sejarah yang mengisahkan bahwa dalam penyerangan ke Sunda Kelapa, pasukan Demak bergabung dengan pasukan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah atau Sunan Gunung Jati.(Fly)

[6] Peristiwa penaklukkan Sunda Kelapa oleh Fatahillah yang bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1527 itulah yang kemudian dijadikan sebagai hari jadi Kota Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kelapa

[7] Ibid.,

[8] Ibid.,

[9] Ibid.,

[10] Op.,Cit. http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/135-fron-page-art-pict/376-sejarah-jakarta

[11] Op.,Cit. http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kelapa

[12] Ibid.,

[13] Ibid.,

[14]Ibid.,

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s