Mengkritisi Kemerdekaan Indonesia

Telah enam puluh lima tahun bangsa ini merdeka. Terhitung sejak dibacakannya teks proklamasi oleh duo founding father bangsa; Soekarno dan Hatta. Hal itu mengisyaratkan bahwa bangsa Indonesia telah memasuki babakan baru dalam rangkaian sejarah perjalanannya.

Namun ditengah gegap-gempita beragam kegiatan peringatan, ternyata pada hakikatnya kemerdekaan yang dirasakan hanya sebatas formalitas belaka. Yaitu merdekanya bangsa Indonesia dari belenggu penjajah asing, terutama kolonialis Jepang dan Belanda. Hal tersebut ditinjau dari masih adanya intervensi asing dalam urusan rumah tangga negara.

Intervensi dalam teknologi informasi di Indonesia

Sebagai contoh adalah dalam bidang teknologi informasi yang tengah berkembang saat ini di Indonesia. Dalam pidatonya beberapa waktu silam di daerah dalam pembukaan sebuah acara, Menkominfo menjelaskan bahwa akan di bangun suatu jaringan komunikasi ke seluruh daerah di nusantara. Dengan tujuan agar seluruh rakyat di daerah memperoleh akses yang sama rata. Sehingga memudahkan rakyat Indonesia dalam berkomunikasi maupun berbagi informasi satu dengan lainnya.

Namun dari rencana yang dijelaskan tersebut ada sesuatu yang sulit untuk di terima. Ternyata sistem atau jaringan komunikasi tersebut akan bermuara ke sebuah server yang berada di Amerika. Dan keadaan ini menjadi sebuah dilema. Di satu sisi, bangsa ini butuh pengembangan teknologi dalam bidang informasi yang tengah mendunia. Namun di sisi lainnya, bangsa ini pun tak mau di jajah untuk kedua kalinya.

Contoh lainnya yang hangat diperbincangkan di berbagai media dan masih terngiang di telinga, yaitu desas-desus pemblokiran salah satu layanan “ponsel pintar” di Indonesia. Pemblokiran itu lantaran masalah secure, yang menjadi keunggulan dari layanan “ponsel pintar” tersebut, dipersoalkan oleh beberapa pihak di Indonesia. Terutama oleh pihak keamanan yang bertanggung jawab terhadap pertahanan dan keamanan negara.

Rencana pemblokiran terhadap layanan tersebut dikarenakan tidak dapatnya pihak keamanan untuk meng”akses” secara telanjang data para pelanggannya. Jika ingin meng”akses” data tersebut, maka harus dengan seizin “penyedia layanan” yang bermarkas di Kanada. Sehingga muat dugaan bahwa layanan tersebut dapat berdampak buruk terhadap keamanan negara. Apalagi jika ada penggunannya yang memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengambil keuntungan bagi diri sendiri dan merugikan yang lainnya termasuk negara.

Produk asing dalam sistem transportasi; darat, laut, dan udara

Dalam system transportasi di Indonesia pun mengalami hal yang serupa, baik itu di darat, laut maupun udara. Bentuk “campur tangan” asing jelas terlihat dalam beragam moda transportasi massal di Indonesia. Sebagai sample adalah moda transportasi yang ada di Jakarta. Hampir semua kendaraan yang simpang-siur di jalan raya Ibukota merupakan made in asing, baik buatan negara lain di Asia ataupun Eropa.

Padahal jika melihat potensi yang dimiliki bangsa ini sangatlah besar, dengan beragam sumber daya. Jika melihat prestasi anak bangsa beberapa waktu lalu, harusnya negara ini bangga. Karena ternyata hasil karya anak bangsa di akui dunia. Terbukti dengan dimenangkannya kompetisi dunia dalam bidang alat transportasi yang hemat energi dan biaya.

Namun seperti yang telah banyak terjadi sebelumnya adalah minimnya apresiasi bagi anak bangsa yang telah mengharumkan nama bangsa. Minimnya apresiasi tersebut justru berasal dari para penyelenggara negara. Padahal mereka yang telah berdedikasi demi negeri harusnya mendapat penghargaan dan tempat yang sesuai dengan porsinya. Jika tidak, maka nasib bangsa akan selalu sama.

Penyeragaman acara dalam media massa

Salah satu bidang yang begitu signifikan terlihat adanya pengaruh asing didalamnya adalah media massa. Contoh saja dunia pertelevisian, beragam acara disuguhkan kepada jutaan pemirsa dengan beragam latar belakangnya. Mulai dari latar belakang profesi, usia, hingga budaya. Yang memprihatinkan adalah “adanya” unsur penyeragaman acara untuk men-design paradigma para penikmatnya.

Sebuah kasus seperti ditapilkannya beragam acara hiburan yang meng-copy paste dengan acara serupa dari mancanegara. Yang secara tak langsung menyusupi sistem nilai asing, yang jika dikomparasikan dengan budaya lokal jauh berbeda. Bahkan sistem nilai yang dibawa dalam acara tersebut sesungguhnya bertolak belakang dengan kearifan local nusantara yang telah turun-temurun membudidaya.

Keadaan ini sesungguhnya begitu memiriskan, lantaran lambat-laun kearifan local bangsa ini dapat terancam eksistensinya. Hal tersebut beralasan dikarenakan para penikmat acara tersebut tidak hanya berasal dari kalangan dewasa, tetapi juga anak-anak yang masih belia. Yang dikhawatirkan dari keadaan ini adalah hilangnya kearifan local tadi lantaran paradigma para penerus bangsa telah di-design sedemikian rupa sesuai kehendak “mereka”.

Kembali pada kearifan bangsa

Jika keadaan ini didiamkan begitu saja, maka “kemerdekaan” yang selama ini didengungkan masihlah mengangkasa. “Merdeka Seratus Persen”, tampaknya hanya sebuah angan dari seorang Tan Malaka. Karena hingga detik ini apa yang dirasakan sesungguhnya tidaklah berbeda jauh dari keadaan dimasa hidupnya, berada dibawah penjajah Belanda.

Untuk itu, seperti yang dikatakan oleh Bung Karno bahwa jika suatu negara ingin dihormati maka ada tiga hal yang harus dilakukan; mandiri secara politik, berdikari secara ekonomi, dan teguh pada budaya bangsa. Tiga elemen itu yang seyogyanya harus dijalankan saat ini, terutama oleh para penyelengara negara. Dan juga bagi seluruh rakyat Indonesia untuk tetap memegang teguh nilai yang telah diwariskan oleh para leluhur bangsa.

Fly(sampahfly.blogspot.com)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Memahami Jakarta(3)

Etnis Betawi, suatu entitas suku bangsa yang mendominasi masyarakat Jakarta. Seperti pada pembahasan sebelumnya, nama Betawi merupakan sebuah bentuk penyebutan terhadap masyarakat yang mendiami Batavia pada masa kolonialias Belanda. Asal usul etnis Betawi pun ditengarai berasal dari berbagai suku bangsa. Baik itu berasal dari suku bangsa pribumi seperti halnya Sunda. Maupun berasal dari suku bangsa asing diluar nusantara, seperti Arab, Cina, Portugis, hingga Belanda.

Dengan demikian terlihat betapa beranekaragamnya suku bangsa yang melebur menjadi satu, yaitu etnis Betawi yang notabene-nya di kenal sebagai tuan tanah di Kota Jakarta. Peleburan beragam sub-etnis tersebut mengindikasikan bahwa etnis Betawi merupakan suatu entitas budaya yang baru. Karena memiliki kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat di sekitarnya, terutama Sunda.

Perbedaan diantara budaya Betawi dengan Sunda tidaklah signifikan, yang menghilangkan adanya unsur persamaan didalamnya. Justru unsur-unsur persamaan diantaranya masih tetap terjaga. Hal tersebut dapat dijumpai dalam aspek bahasa. Banyak kosa kata bahasa Sunda yang masih tetap digunakan oleh masyarakat Betawi di Jakarta dan sekitarnya.

Terutama bagi masyarakat Betawi yang berdomisili di wilayah Tanggerang, Bekasi, Depok, yang letaknya di sekitar Jakarta. Mereka masih banyak yang menggunakan ragam bahasa Sunda. Seperti kata “terlalu” yang berarti “pisan” dalam bahasa Sunda, ternyata masih pula digunakan oleh masyarakat Betawi sekitar Jakarta. Hal tersebut disinyalir karena factor geografis wilayah tersebut yang berbatasan langsung dengan daerah Banten maupun Jawa Barat yang masih menggunakan bahasa Sunda.

Peleburan beragam sub-etnis tersebut menjadi sebuah etnis baru merupakan hasil dari adanya kontak budaya. Adanya akulturasi, asimilasi maupun hibridisasi, merupakan contoh dari hubungan antar suku bangsa yang berlangsung lama. Namun peleburan atau adanya kontak antara berbagai etnis maupun suku bangsa ternyata tidaklah menghilangkan unsur budaya lama. Justru kebudayaan baru yang dihasilkan dapat bersinergis dan menciptakan kehidupan yang harmonis dalam bingkai keanekaragaman tanah air tercinta.

(bersambung)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Memahami Jakarta(2)

Keanekaragaman, sebuah niscaya yang mewarnai Jakarta. Seperti dalam konteks etnisitas dan agama. Sejarah yang melatari berdirinya Kota Jakarta kental akan dinamika. Tatkala Kota Jakarta masih bernama Sunda Kelapa, berdiamlah suatu suku bangsa. Yaitu suku bangsa Sunda, yang mendiami wilayah barat pula Jawa.

Kemudian dengan kian tersohornya Sunda Kelapa di telinga bangsa Asia maupun Eropa. Datanglah bangsa Asia dan Eropa dengan berbagai motif yang melatarinya. Mulai dari alasan untuk menjalin hubungan dalam bidang perekonomian, mensyiarkan ajaran keagamaan, hingga motif imperialisme untuk memperluas daerah kekuasaan di Asia Tenggara.

Namun dari sekian motif yang melatari berbagai bangsa asing, Asia maupun Eropa, untuk datang ke Sunda Kelapa. Ternyata tak semuanya hanya terpaku pada alasan tersebut saja. Justru karena terjadinya persinggungan antara bangsa asing dengan masyarakat pribumi atau Sunda, akhirnya mengakibatkan timbulnya suatu kontak budaya.

Peristiwa itu yang perlahan, seiring waktu berjalan, membaurkan bangsa asing dengan  pribumi nusantara. Serta membiaskan motif-motif awal kedatangan mereka ke Sunda Kelapa. Sehingga menciptakan suatu tatanan kehidupan yang baru dengan kebhinekaan didalamnya.

Keadaan tersebut berulang dari masa Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga Jakarta. Mulai dari masa Kerajaan Sunda, Kerajaan Islam Demak, Kolonialis Belanda, hingga Indonesia merdeka. Hal itulah yang kian memajemukkan kondisi sosial di Jakarta. Berbagai etnis, beragam adat-istiadat, berbhineka budaya, hingga bermacam agama tumpah ruah di sana.

Masyarakat Betawi yang mendominasi Jakarta

Berbicara etnisitas, sesungguhnya terdapat beragam etnis di Jakarta. Namun yang mendominasi dan menjadi tuan rumah adalah etnis Betawi yang telah mendiami lama Jakarta.[20] Hal itu telah tampak dari suatu proto type etnis Betawi pada abad ke-19, yang memiliki cara dan kesenian yang berbeda dengan masyarakat Sunda pada umumnya.[21] Mengingat letak geografis Jakarta berada dalam wilayah Jawa Barat yang notabene-nya beretnis Sunda.

Etnis Betawi memang memiliki karakteristik khusus dibandingkan dengan masyarakat Sunda. Hal tersebut karena adanya unsur budaya asing yang membaurinya. Seperti budaya Arab, Portugis, Belanda, maupun Cina. Berbagai unsur budaya asing itu mempengaruhi budaya lokal, mengkolaborasinya dengan unsur budaya lama. Sehingga menciptakan budaya, adapt-istiadat, maupun kesenian baru yang berbeda.

Masyarakat Betawi dan ragam budaya

Pengaruh unsur budaya asing yang menghiasi ragam seni masyarakat Betawi dapat di lihat dari seni musik, tari maupun drama.[22] Salah satu contohnya terlihat jelas dalam seni musik maupun suara. Seperti gambang kromong ataupun tanjidor yang memiliki keidentikan dengan budaya Eropa.

Begitu pula dengan pengaruh budaya Asia, khususnya Arab maupun Cina. Hal itu terlihat dalam pakaian adat perkawinan bagi sang mempelai wanita. Busana sang mempelai wanita biasanya memiliki hiasan cadar pada wajahnya. Hiasan atau aksesoris tersebut merupakan bentuk adopsi dari budaya Cina.

Masih banyak contoh lain yang dapat menggambarkan adanya unsur akulturasi dalam adat etnis Betawi atau masyarakat Jakarta. Namun teori mengenai asal usul nama etnis Betawi masih mengundang banyak tanya. Ada yang mengatakan bahwa nama atau istilah “betawi” digunakan untuk menyebut nama masyarakat yang tinggal di Batavia. Penyebutan tersebut dikarenakan dialek masyarakat pribumi kala itu yang sulit melafalkan bunyi “vi” atau “via”. Sehingga menyebut Batavia dengan “batawia”, “batawi”, menjadi “betawi” hingga sekarang yang telah berganti era.

(bersambung)


[20] Ibid., (http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/135-fron-page-art-pict/375-budaya)

[21] Ibid.,

[22] Ibid.,

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Memahami Jakarta(1)

Jakarta, sebuah kota yang memiliki nilai historis didalamnya. Setelah pada era sebelumnya mengalami banyak pergantian nama, seiring pula dengan silih-bergantinya rezim yang menguasainya. Mulai hanya dari penyebutan bagi sebuah daerah kecil berupa pelabuhan di utara pulau Jawa, yaitu Sunda Kelapa. Kemudian diubah oleh Fatahillah menjadi Jayakarta, lalu di ganti kembali oleh Kolonialis Belanda menjadi Batavia. Kini nama Jakarta-lah yang di gunakan untuk menyebut nama daerah tersebut pasca Indonesia merdeka.

Perubahan nama yang dialami, mengindikasikan bahwa sejak dahulu Jakarta telah memiliki ragam pesona. Bukan hanya terdengar dalam linkup nusantara, tetapi telah menggema ke berbagai penjuru dunia. Bahkan sampai ke tanah Cina, India, Arab, Persia maupun hingga ke dataran Eropa. Maka tak heran jika sejak abad ke-14 telah terjalin suatu bentuk kerjasama.

Perniagaan antar bangsa di Sunda Kelapa

Bentuk kerjasama yang dilakukan oleh masyarakat Sunda Kelapa dengan bangsa asing lainnya, berupa perniagaan antar bangsa. Terlebih sejak dahulu nusantara sudah terkenal sebagai pemasok rempah-rempah terbesar di kawasan Asia. Dan Sunda Kelapa merupakan salah satu tempat pemasarannya. Di tambah pula jika meninjau dari  letak geografis, kawasan nusantara begitu strategis dan termasuk ke dalam jalur perdagangan antar bangsa yang di kenal dengan istilah “jalur sutra”.

Selain kestrategisan dan kesohoran sebagai bangsa penghasil rempah-rempah, Sunda Kelapa juga memiliki potensi sumber daya alam lain, seperti sumber daya kelautannya.[18] Hal itu tak lain karena sebagian besar kawasan nusantara merupakan laut, bahkan luasnya sekitar dua pertiga.

Motif lain yang melatari kerjasama antar bangsa di Sunda Kelapa

Kerjasama dalam bidang perniagaan yang terjadi dahulu di Sunda Kelapa, ternyata tidak hanya didasari oleh motif ekonomi saja. Melainkan juga oleh motif lainnya seperti agama. Hal itu yang dapat ditelusuri dari datangnya banyak saudagar Arab ke nusantara, khususnya ke Sunda Kelapa.

Selain datang untuk berniaga, mereka juga membawa misi khusus untuk mensyiarkan suatu agama. Melalui media perniagaan, mereka menyampaikan nilai-nilai kebaikan suatu agama. Sehingga akhirnya ada respon balik dari masyarakat pribumi untuk lebih mengenal ajaran agama baru yang dikenalkan oeh mereka.

Adanya kontak dengan bangsa Asing, seperti Arab, Persia, maupun Cina lambat laun menimbulkan terjadinya difusi budaya. Salah satu bentuknya melalui perkawinan lintas bangsa. Hasil perkawinan tersebut menghasilkan generasi baru dengan budaya baru pula. Sehingga menambah keanekaragaman budaya maupun suku bangsa di Sunda Kelapa.[19]

Jika dahulu sebelum adanya kontak dengan bangsa lain, masyarakat Sunda Kelapa beretnis Sunda atau Jawa. Maka setelah adanya asimilasi, terjadi kemajemukan suku bangsa. Jika dahulu masyarakat Sunda Kelapa di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda Padjajaran menganut ajaran Hindu-Budha. Kemudian setelah adanya akulturasi dengan bangsa Arab maupun Cina menambah keragaman agama.

(bersambung)


[18] Jakarta atau dikenal dahulu dengan Sunda Kelapa, dengan kondisi geografis lautan yang lebih luas dari daratan memiliki potensi sumber daya laut yang cukup besar, yakni berupa sumber daya mineral dan hasil laut.

(http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/tentang-jakarta/sumber-kekayaan-alam)

[19] Keanekaragaman ditambah dengan pengaruh bangsa asing melahirkan keanekaragaman corak seni dan budaya. Beberapa lamanya daerah ini menjadi tempat berkumpulnya berbagai bangsa dan suku suku bangsa dan bermacam-macam adat istiadat, bahasa dan budaya daerah masing-masing. Berbaurnya suku-suku bangsa dari seluruh tanah air dengan bangsa lain seperti Cina, Arab, Turki, Persia, Inggris dan Belanda mengakibatkan terjadinya perkawinan di antara mereka, sehingga terjadilah perpaduan adat istiadat, budaya dan falsafah hidup hingga melahirkan corak budaya dan tata cara yang baru.

(http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/135-fron-page-art-pict/375-budaya)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Mengenal Jakarta(3)

Pemerintahan Belanda di Batavia berlangsung sekitar tiga setengah abad lamanya. Terhitung dari awal abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20, berbarengan dengan kian panasnya pergolakan politik antar negara-negara di dunia. Berakhirnya pemerintahan Belanda tersebut dikarenakan perebutan kekuasaan secara paksa. Yaitu oleh bangsa Jepang dari timur Asia.

Keberhasilan Jepang mengambil alih kekuasaan di Batavia pun tidak datang dengan sendirinya. Selain factor militer, keberhasilan pasukan Jepang (Dai Nippon) dikarenakan juga factor budaya. Yaitu dengan adanya budaya atau mitos yang berkembang di nusantara. Mengenai konsep “akan hadirnya Ratu Adil” di nusantara yang akan membawa rakyat Indonesia merdeka.

Dalam mitos tersebut diterangkan bahwa akan datangnya Ratu Adil yang bercirikan fisik berkulit kuning dan berasal dari benua yang sama, yaitu Asia. Dan ciri fisik itu akhirnya menjurus pada bangsa Jepang yang kala itu memang tengah berjaya. Dengan militer yang kuat dari berbagai armada, baik itu darat, laut, maupun udara.

Berakhirnya sepenggal cerita mengenai sebuah nama; Stad Batavia

Masa pendudukan Jepang dimulai pada tahun seribu sembilan ratus empat puluh dua.[15] Sejak saat itu bangsa Jepang-lah yang memerintah di Kota Batavia. Dengan otoritas yang dimilikinya, Jepang mengganti nama Batavia menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.[16] Namun lebih terdengar familiar di telinga rakyat pribumi dengan nama Jakarta.

Pergantian nama tersebut dikarenakan Jepang ingin mengapus unsur-unsur yang berbau Belanda. Dan juga karena factor ejaan Jakarta yang sesuai dengan bahasa Sansekerta. Sehingga mempermudah rakyat pribumi untuk melafazkannya.

Pemerintahan Jepang di Jakarta tidaklah berlangsung lama. Hal tersebut dikarenakan adanya pergolakan politik, baik dalam maupun luar negeri Pemerintahan Jepang. Terutama dalam politik luar negeri, Jepang kala itu tengah menghadapi perang yang berkecamuk di dunia. Yang di kenal dengan perang dunia kedua.

Untuk menghadapi perang dunia kedua, mau tak mau Jepang mengerahkan semua bala tentara. Termasuk merekrut orang pribumi untuk dilatih menjadi seorang prajurit dan ksatria. Maka didirikanlah organisasi kepatriotan yang bertujuan membela tanah air, dengan nama PETA.

Pada masa krusial itulah terjalin suatu kerjasama. Antara pemerintah Jepang dengan rakyat Indonesia. Jika rakyat Indonesia mau membantu pasukan Jepang menghadapi tentara sekutu yang memeranginya. Maka Jepang akan memberikan imbalan kepada bangsa Indonesia berupa negara yang merdeka.

Disahkannya nama Jakarta oleh pemerintahan bangsa sendiri pasca Indonesia merdeka.

Akhirnya harapan yang dinanti pun tercipta. Tanah air yang merdeka terdeklarasi pula pada tahun empat lima. Deklarasi itu dibacakan oleh duet pahlawan nasional, Soekarno dan Hatta. Pembacaan deklarasi kemerdekaan tersebut bertempat di bilangan Menteng, Jakarta.

Beberapa hari kemudian pasca deklarasi kemerdekaan terjadilah sebuah gerakan besar massa. Yang terjadi pula di sebuah lapangan di pusat kota Jakarta. Tujuan gerakan massa tersebut tak lain adalah untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.

Pada September 1945, untuk pertama kalinya di bawah pemerintahan bangsa sendiri, nama Jakarta pun disahkan dengan nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.[17] Hingga saat ini nama Jakarta menjadi nama resmi bagi Ibukota Negara.

(bersambung)


[15] Ibid., http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kelapa

[16] Op. Cit., http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/135-fron-page-art-pict/376-sejarah-jakarta

[17] Ibid.,

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Mengenal Jakarta(2)

Peralihan kekuasaan dari Bangsa Portugis ke Kerajaan Demak di Jawa

Perjanjian yang dilakukan oleh Kerajaan Sunda Padjajaran dengan Bangsa Portugis, dianggap oleh Kerajaan Islam Demak sebagai sebuah propaganda. Dan dinilai sebagai sebuah ancaman terhadap eksistensi mereka. Sehingga Kerajaan Demak di Jawa mentitahkan Fatahillah[5] untuk mengusir Bangsa Portugis dari Sunda Kelapa sekaligus menguasainya.

Pada tanggal 22 Juni 1527[6], pasukan gabungan Kerajaan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) berhasil merebut dan mengusai Sunda Kelapa. Kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Nama itu di ambil dari bahasa Sansekerta yang artinya kota kemenangan, atau secara etimologisnya mengandung arti kemenangan yang diraih oleh sebuah usaha.[7]

Datangnya masa kolonialisme modern dibawah kekuasaan Belanda

Usia kota kemenangan, Jayakarta tidaklah berlangsung lama. Hal itu ditengarai akibat adanya ekspansi dari kolonialis modern asing di kawasan nusantara. Bermula dengan berdirinya Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) milik Belanda yang berlatar belakang ekonomi dan bertujuan untuk berniaga. Namun lambat laun, VOC justru menjadi kekuatan politik besar sehingga membutuhkan sokongan militer yang kuat pula.

Maka pada tanggal 30 Mei 1619,[8] akhirnya Jayakarta berhasil direbut oleh pasukan Belanda dari kekuasaan Kerajaan Demak yang sedang mengalami fragmentasi didalamnya. Pasukan Belanda tersebut di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen sebagai panglima. Di bawah pimpinannya, pasukan Belanda tidak hanya menguasai melainkan pula memusnahkan Kota Jayakarta.

Di atas puing-puing Kota Jayakarta lama, Jan Pieterszoon Coen mendirikan sebuah kota baru yang dinamai Nieuw Hoorn (Hoorn Baru), sesuai dengan kota asalnya Hoorn di Belanda.[9] Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya pada tanggal 4 Maret 1621 oleh kolonialis Belanda untuk pertama kali dibentuklah pemerintah kota bernama Stad Batavia.[10]

Batavia di bawah pemerintah kota kolonialis Belanda

Batavia, dibawah pemerintahan Belanda menjadi sebuah kota yang tertata baik dan terencana. Pembangunan pun terjadi dimana-mana. Yang paling terasa adalah dengan adanya pembangunan kanal di pelabuhan Sunda Kelapa. Dari mulanya kanal tersebut hanya sepanjang 810 meter, namun berkat pembangunan diperbesar menjadi 1.825 meter sekitar dua kali lipatnya.[11]

Tidak hanya itu, pada abad ke-19 di Batavia dibangunlah pelabuhan Tanjung Priok yang berjarak sekitar 15 km ke arah timur dari Sunda Kelapa. Tujuan dibangunnya pelabuhan lain selain Sunda Kelapa adalah untuk menyaingi Singapura yang kala itu menjadi rival Batavia. Mengingat kala itu tengah terjadi modernisasi di seluruh belahan dunia. Dikarenakan telah dibukannya Terusan Suez pada tahun 1869 sebagai jalur pelayaran utama.[12] Dan Batavia memiliki letak yang strategis sebagai bagian dari jalur sutra di kawasan Asia Tenggara.

Selain dari pembangunan pelabuhan, pada tahun 1869 dibngunlah moda transportasi sederhana. Yaitu trem berkuda yang ditarik empat ekor kuda, yang diberi besi di bagian mulutnya.[13] Pada tahun 1873 di Batavia pun di bangun jalur kereta api pertama.[14] Jalur kereta api tersebut menghubungkan kota Batavia dengan Buitenzorg (Bogor) yang berada di selatannya.

(bersambung)


[5] Sebutan “Fatahillah” masih menuai beragam teori, ada yang mengatakan bahwa Fatahillah adalah nama seorang panglima perang Kerajaan Demak. Dinamai Fatahillah karena dinilai berjasa dalam menguasai Sunda Kelapa, dan merupakan sebuah “gelar” baginya. “Fatahillah” berasal dari bahasa Arab. Menurut bahasa “fatah” berarti “pembuka” atau “penakluk”. Sedangkan menurut epistemologinya mengandung arti “kemenangan atas karunia Allah”.

Sedangkan ada teori lain yang menyebutkan bahwa, Fatahillah adalah gelar atau nama lain dari Sunan Gunung Jati yang berkedudukan di Gunung Jati Cirebon. Teori ini didukung dengan adanya sejarah yang mengisahkan bahwa dalam penyerangan ke Sunda Kelapa, pasukan Demak bergabung dengan pasukan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah atau Sunan Gunung Jati.(Fly)

[6] Peristiwa penaklukkan Sunda Kelapa oleh Fatahillah yang bertepatan dengan tanggal 22 Juni 1527 itulah yang kemudian dijadikan sebagai hari jadi Kota Jakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kelapa

[7] Ibid.,

[8] Ibid.,

[9] Ibid.,

[10] Op.,Cit. http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/135-fron-page-art-pict/376-sejarah-jakarta

[11] Op.,Cit. http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kelapa

[12] Ibid.,

[13] Ibid.,

[14]Ibid.,

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Mengenal Jakarta(1)

22 Juni merupakan hari jadi Kota Jakarta. Tanggal tersebut diambil dari peristiwa sejarah yang melatarinya. Seperti yang telah diketahui, Kota Jakarta pun pernah mengalami beberapa kali perubahan nama. Sebalum akhirnya nama Jakarta ditetapkan pada tahun 1956 melalui keputusan DPR Kota Sementara.[i]

Menapaki sejarah Kota Jakarta dari Pelabuhan Sunda Kelapa

Seperti yang telah disinggung diatas, Kota Jakarta sempat beberapa kali mengalami perubahan nama. Hal tersebut tak terlepas dari rezim yang menguasainya. Dan sejarah mengenai nama tersebut bermula dari masa Hindu-Budha. Yaitu di masa Kerajaan Padjajaran atau Kerajaan Sunda.[ii]

Pada masa tersebut belumlah dikenal nama Jakarta. Melainkan sebuah nama untuk menyebut suatu pelabuhan di utara, yaitu Pelabuhan Sunda Kelapa. Tidak hanya di nusantara, nama pelabuhan tersebut telah mashur terdengar di mana-mana. Bahkan ke penjuru dunia, hingga ke tanah Eropa.

Hal itulah yang melatari datangnya berbagai pedagang ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Mereka berasal dari beragam suku bangsa. Mulai dari bangsa Arab, Persia, dan Tionghia dari benua Asia. Hingga bangsa Portugis dan Belanda dari Eropa. Mereka bertumpah ruah disana. Mulai dari melakukan transaksi bisnis sampai menyiarkan suatu ajaran agama.

Namun yang paling fenomenal adalah adanya muatan politis dalam kunjungan mereka ke Sunda Kelapa. Seperti yang dilakukan oleh bangsa Portugis ketika datang ke sana. Bangsa Portugis, yang kala itu telah menguasai wilayah Malaka, pada mulanya datang memenuhi undangan Kerajaan Sunda.[iii] Yaitu untuk membangun benteng pertahanan bagi Sunda Kelapa dari ancaman Kerajaan Demak yang ingin menguasainya.

Sebagai balas budi kepada Bangsa Portugis, Kerajaan sunda memberikan seribu keranjang rempah-rempah berupa lada. Namun tidak hanya itu, pada tahun 1522, mereka pun melakukan suatu perjanjian kerjasama. Salah satunya adalah diperkenankannya Bangsa Portugis mendirikan loji atau perkantoran serta perumahan di Sunda Kelapa.[iv]

(bersambung)


[i] http://www.jakarta.go.id/v70/index.php/en/component/content/article/135-fron-page-art-pict/376-sejarah-jakarta

[ii] http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kelapa

[iii] Ibid.,

[iv] Ibid., (Tambahan) Peninggalan sejarah seperti perumahan maupun keturunan mereka hingga kini masih terjaga. Yaitu komunitas yang dikenal sekarang dengan Kampung Tugu di Jakarta Utara.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar