Sinopsis Film: “Alangkah Lucunya Negeri Ini”

Sebuah film besutan sutradara kondang, Deddy Mizwar, mengangkat beragam pesan moral dan edukasi. Karena dalam film ini diceritakan bagaimana pentingnya pendidikan bagi kehidupan. Walau realitanya kadang tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Disinilah terjadi pergulatan “argumentasi” antar tokoh dalam film ini mengenai esensi dari pendidikan itu sendiri.

Film ini mengangkat cerita yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana dalam film ini dilihatkan pergumulan anak-anak jalanan dalam mencari sesuap nasi di tengah hegemoni masyarakat metropolitan yang hedonis. Di tengah-tengah pergulatan mengenai arti penting pendidikan demi kehidupan. Terutama bagi mereka di masa depan.

Kelebihan film ini adalah kenaturalisannya. Karena sekitar 70% dari tokoh atau pemain film ini merupakan anak-anak jalanan “asli”. Salah satu diantaranya adalah pemeran tokoh Glen yang dimainkan oleh Muhammad Irfan yang “profesi” kesehariannya adalah seorang anak jalanan.

Film ini diawali dari cerita seorang sarjana bernama Muluk, diperankan oleh Reza Rahardian, yang menganggur sekitar 2 tahun terhitung sejak menamatkan kuliah Management-nya. Ketika suatu hari di tengah ikhtiarnya dalam mencari pekerjaan, dia berjumpa dengan segerombolan pencopet cilik yang sedang beraksi di keramaian pasar. Diikutilah salah seorang diantara pencopet cilik itu yang diketahuinya sedang mengitung hasil copetan.

Dengan sigapnya, Muluk langsung menergap pencopet cilik itu dan mengatakan sakit hatinya melihat aksi pencopetan tersebut. Dia berkata; “kenapa kamu mencuri uang orang lain? Jika kalian butuh uang, mintalah baik-baik!! Bukan lantas mencuri!!”. Namun lucunya, pencopet cilik itu dengan gampangnya menjawab; “saya kan pencopet, bukan peminta-minta.”

Selang beberapa hari kemudian setelah kejadian di pasar itu, Muluk kembali bertemu dengan pencopet cilik tersebut yang kemudian dikenalnya dengan nama Komet. Muluk ditawarinya traktir makan bersama. Namun karena mengetahui uang yang dimiliki oleh Komet hasil copetan, Muluk-pun menolaknya. Lantaran latar belakang agama yang dimilikinya begitu kental.

Disinilah serunya, dimana terdapat suatu proses dialektika dan pergulatan batin antara keimanan dengan kebutuhan dalam diri Muluk. Di satu sisi dalam perspektif agama, Muluk mengetahui bahwa uang hasil copetan adalah haram. Namun di sisi lain, dia sadar akan kebutuhan hidup yang harus dipenuhinya. Terlebih hasrat ingin membahagiakan orang tua dan menolong sesama yang dimilikinya. Sehingga pada akhirnya tidak hanya menerima tawaran makan dari Komet. Tetapi juga dengan kesadaran dan inisiatif pribadi, Muluk menawarkan diri untuk me-manage uang hasil copetan dan memberdayakan para pencopet cilik tersebut.

Nah, babakan kedua dari cerita film ini dimulai. Muluk akhirnya bekerjasama dengan sindikat pencopet cilik yang dikomandoi oleh Bos Copet, dimainkan oleh Theo Pakusadewo. Dalam proses kerjasama tersebut, Muluk bertugas mengelola uang hasil copetan yang akan ditabung dan kelak dimanfaatkan untuk membuka usaha mikro berupa retail. Dengan tujuan memberdayakan mereka dan mengalihkan profesi mereka dari pencopet ke pengasong.

Dalam perjanjian kerjasama tersebut, Muluk mendapat 10% dari keseluruhan hasil copetan mereka tiap bulannya. Dengan penghasilan 10% yang diterima Muluk tersebut digunakannya untuk mengupahi jasa kedua temannya yang mengajar pengetahuan umum dan agama. Padahal ketika mulanya mereka enggan menerima tawaran Muluk. Terlebih bagi Asrul yang telah putus asa dengan keadaannya.

Asrul adalah seorang pemuda “tuna karya” yang menyandang gelar sarjana pendidikan. Namun karena keadaan yang tidak menguntungkan baginya, dia lantas meragukan manfaat dari pendidikan. Dan terjadi adegan perdebatan diantara Muluk dengan Asrul mengenai pentingnya pendidikan. “Pendidikan itu ga penting!!”, ucap Asrul. “Lo ga akan tau kalo pendidikan itu ga penting kalo lo ga berpendidikan”, sanggah Muluk kepada Asrul. Perkataan Muluk itu sedikit menyentil Asrul. Dan akhirnya dia ikut serta bekerjasama dalam memberdayakan para pencopet cilik tersebut.

Ternyata pilihan mereka untuk bekerjasama dengan Muluk dan sindikat pencopet cilik merupakan pilihan tepat. Berkat kegigihan dan kesabaran mereka dalam mengajarkan pengetahuan umum, moral, etika maupun agama. Lambat laun para pencopet cilik tersebut mulai mengalami perubahan gaya hidup. Yang pada awalnya mereka tergolong buta huruf, kini tidak lagi karena telah dapat mengenal huruf dan membaca. Yang dahulu mereka tak memahami mengenai agama, kini mereka menjadi pencopet yang religius. Dan banyak perubahan lain kearah yang lebih baik dalam diri mereka.

Alur cerita film ini pun akhirnya menemui titik klimaksnya. Di kala Muluk dan kedua rekannya tengah asyik bekerja memberdayakan para poncopet cilik. Para orang tua mereka berkeinginan untuk mengetahui jenis dan tempat bekerja mereka. Maka terjadilah kekalulatan dalam diri mereka. Lantaran selama ini mereka tak pernah menceritakan pekerjaan sebenarnya.

Kebingungan itu dikarenakan kekhawatiran mereka akan kekecewaan yang akan dialami oleh para orang tua mereka jika mengetahui jenis pekerjaan yang mereka lakukan. Bukan karena semata jenis pekerjaannya. Namun karena upah yang diterima Muluk dan kedua temannya berasal dari uang hasil copetan. Yang dinilai oleh para orang tua mereka sebagai uang haram.

Hal yang dikhawatirkan oleh Muluk dan kedua temannya pun akhirnya terjadi. Orang tua mereka mengetahui jenis dan tempat bekerja mereka. Hingga akhirnnya orang tua Muluk, dimainkan oleh Deddy Mizwar, sangat kaget dan kecewa dengan pekerjaan yang dijalaninya. Orang tua Muluk sungguh terpukul dengan apa yang dikerjakan oleh anaknya tersebut hingga dia introspeksi diri dan bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Ya Allah, apa dosa yang telah hamba perbuat? Hingga putra hamba memakan uang haram hasil mencopet. Apa hamba secara tak sengaja pernah menafkahinya dengan uang haram ya Allah??” penyesalan orang tua Muluk kepada Tuhan.

Kekecewaan yang dialami oleh orang tua mereka seakan menyurutkan semangat Muluk dan temannya untuk melanjutkan pemberdayaan dan memberikan pendidikan bagi para pencopet cilik tersebut. Hingga akhirnya Muluk dan temannya memutuskan untuk mengakhiri kerjasama mereka dengan sindikat pencopet tersebut. Muluk pun akhirnya menyerahkan kembali pengelolaan pendapatan mereka kepada Bos Copet.

Hasil pengelolaan Muluk yang diserahkan kembali kepada Bos Copet berupa rekening tabungan sebesar 21 juta rupiah dan 6 kotak asongan. Yang semuanya itu merupakan hasil jerih payah mencopet mereka selama dalam di manage oleh Muluk.

Akhirnya apa yang dicitakan Muluk untuk membebaskan mereka dari pekerjaan mencopet terwujud. Walau ketika terwujudnya tidak lagi di manage olehnya, namun spirit yang ditularkan Muluk kepada mereka berkembang dengan baik. Hingga akhirnya 6 orang dari pencopet itu telah bebas dari profesi sebelumnya menjadi pengasong.

Memang lucunya negeri ini, walau mereka sudah bekerja dengan cara “halal” yaitu dengan mengasong. Namun mereka masih saja tak dirundung rasa aman. Akibat ancaman penertiban yang kerap dilakukan oleh para polisi pamong praja. Dan terjadilah hal yang tak diinginkan oleh mereka. Satuan polisi pamong praja menggelar razia berupa penertiban pedagang asongan. Kontan mereka pun berlari menghindari kejaran Satpol PP. Hingga akhirnya mereka diselamatkan Muluk yang menahan kejaran Satpol PP dan meminta agar dirinyalah yang ditahan. Bukan mereka para pengasong cilik yang sedang memulai hidup barunya.

Demikianlah sedikit alur cerita dari film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Memang apa yang menjadi pesan dalam film ini begitu menyentuh dan menggelitik kita semua. Karena dalam film ini sedikit banyak mengupas potret kehidupan di tanah air. Bagaimana dunia pendidikan di tanah air kurang diperhatikan. Ditambah lagi fenomena kehidupan jalan yang selalu termarginalkan. Dan kurangnya lahan pekerjaan, menambah meningkatnya jumlah pengangguran di tanah air.

Semoga kita dapat memetik pesan moral di dalam film ini. Agar kita dapat termotivasi dalam berkarya dan berjuang memberdayakan serta memajukan bangsa ini.

Penulis  : Misdah N.

Editor   : Ahmad Rafli A.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s